Kebebasan Berperilaku Sumber Kerusakan

Inspirasi Islami Perempuan, Keluarga dan Anak

Minggu, 18 Agustus 2013

Kebebasan Berperilaku Sumber Kerusakan


Kebebasan Berperilaku Sumber Kerusakan

Kebebasan berperilaku sebagai pilar demokrasi nampaknya makin kental kita lihat di kehidupan ini. Tidak terkecuali di Sumedang dengan Jatinangor sebagai salah satu wilayahnya yang menjadi kawasan pusat pendidikan. Setelah beberapa kasus penemuan mayat bayi sebelumnya, beberapa waktu lalu Polisi mampu mengungkap kasus pembuangan bayi laki-laki dihalaman rumah kos  Pondok Yellow Lilly di Dusun Ciawi RT 02 RW 04 Desa Cikeruh Kecamatan Jatinangor. 

Menurut Kapolsek Jatinangor, Komisaris Rikky Aries Setiawan membenarkan jika tersangka kasus pembuangan bayi di jatinangor itu seorang mahasiswi. (http://www.pikiran-rakyat.com) Setelah sebelumnya dijadikan sebagai tersangka pembuang bayi hingga meninggal, Id, 20, salah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jatinangor tersebut kini tiba di Mapolsek Jatinangor, Senin (8/4) siang sekitar pukul 12.00. http://radarsumedang.blogspot.com

Sudah menjadi rahasia umum, kasus pembuangan bayi adalah hasil dari seks bebas. Dalam kehidupan modern yang mengusung demokrasi, seks bebas dianggap gaya hidup yang perlu dilindungi. Hal ini sejalan dengan prinsip kedaulatan di tangan manusia. Dalam demokrasi manusia berhak membuat aturan hidupnya sendiri. Bila terkandung manfaat pada suatu perbuatan, demokrasi membuka pintu lebar untuk melakukannya.

Tidak aneh , Inggris sebagai Negara kampiun demokrasi menjadi negara ke 11 yang menyetujui pernikahan sejenis. Parlemen Inggris telah menyetujui perhikahan sejenis; 400 orang anggota perlemen mendukung dan 175 menolak. Sepuluh negara lain adalah Belanda (2001), Belgia (2003), Spanyol (2005),  Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia, Swedia (2009), Portugal (2010), Islandia (2010), Argentina (2010) (Huffingtonpost.com).

Banyak hal lainnya yang bertentangan dengan fitrah manusia dilegalkan atas nama kebebasan berperilaku sebagai pilar demokrasi. Dengan mudah suatu forum mengetukkan palu untuk membuat undang-undang yang bertentangan dengan  aturan agama. Bisa diprediksi, manusia turun harkat dan martabatnya lebih rendah dari binatang seperti firman Allah :
 QS. Al FuRqaan (25) ayat 43-44]
“Terangkanlah kepadaku tentang Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”

Karena itu,   “Di antara bencana paling mengerikan yang menimpa seluruh umat manusia, ialah ide kebebasan individu yang dibawa oleh demokrasi. Ide ini telah mengakibatkan berbagai malapetaka secara universal, serta memerosotkan harkat dan martabat masyarakat di negeri-negeri demokrasi sampai ke derajat yang lebih hina daripada derajat segerombolan binatang!” (Al-’Allamah as-Syaikh Abdul Qadim Zallum).

Untuk kembali kepada kemuliaannya, manusia harus tunduk dan patuh pada RabbNya, Allah SWT. Hanya dengan mencampakkan demokrasi dan kembali pada sistem islam manusia ditempatkan pada sebaik-baik makhluk. Kaum Muslim harus kembali pada sistem Islam, kembali pada syariah, kembali dalam naungan Khilafah Islamiyah; sebagaimana selama berabad-abad pernah dialami oleh generasi kaum Muslim terdahulu. Hanya dengan itulah, kemuliaan kaum Muslim di dunia maupun di akhirat bisa diraih.  

penulis: Ekha Subara