Ghozy Salam Al Fatih Anakku

Inspirasi Islami Perempuan, Keluarga dan Anak

Senin, 06 Agustus 2012

Ghozy Salam Al Fatih Anakku

Kisah inspiratif tentang ibu dan anak

Pintu itu kemudian terbuka. Subhanallah, anakku muncul di tengahnya, " Ayo coba ini apa?," ujarnya melempar tanya menunjuk nunjuk tas yang dibawanya, bermaksud ingin memberi tahu isi dalam tas. " Tamiyaaa." ujarnya lantang, seolah ingin cepat-cepat menjawab kepenasaran kami sekeluarga.

Seketika tangis & tawa kami pecah. Peristiwa yang kami tunggu hasilnya dengan kecemasan & pengharapan terjadi sudah. Setelah dikhitan di dalam ruangan, ternyata anak kami keluar dari pintu itu dengan kegembiraan. Tidak ada raut muka yang sedih atau meringis. Yang ada hanyalah kegembiraan, seraya membawa tas berisi mobil mainan hadiah dari klinik khitan. Rasanya ia memberikan senyum yang paling lebar kepada kami ketika muncul dari pintu tersebut.

Namun justru senyum itu meluruhkan segala persiapanku untuk tidak menangis. Beberapa saat kelopak mataku menumpahkan air mata kebahagiaan. Hingga menjadi telaga kecil yang memberi kedamaian kepada tubuh ini. Di salah satu sudut klinik khitan itu, tampak papaku terisak menangis. Tubuhnya berguncang-guncang mengimbangi  haru biru perasaannya. Di sudut yang lain, sudah lebih dulu ibu mertuaku mengalirkan banyak air mata sehingga membuat matanya sembab kemerahan.

Alhamdulillah, anakku telah dikhitan dengan selamat 09 juli 2011 yang lalu. Bahkan dengan proses yang membuat hati bundanya ini seperti terbang. Setelah dipanggil namanya, ia masuk sendirian ke dalam ruang tindakan khitan. Aturan klinik tersebut tidak memperbolehkan orang tuanya masuk. Hanya sekira 15 menit dia sudah keluar dari pintu yang lain sebagai tanda sudah selesainya proses khitan dengan baik.

Mungkin bagi anakku, khitan bermakna proses mendapat hadiah, banyak dikunjungi saudara dan teman. Ya dalam umur 3 tahun mungkin hanya itu yang bisa dia mengerti. Tapi bagiku, proses khitannya adalah pembelajaran aku & kami sebagai orang tua. Mencoba menguatkan hati untuk patuh dan taat kepada Sang khalik, pencipta & pemilik sejati anakku.

Langkah ringannya masuk ke ruang khitan, mengajarkan kami untuk melangkah ringan pula dalam kebaikan di jalan Allah. Keberaniannya untuk ada dalam ruangan khitan serta mengikuti prosesi khitan mengajarkan kami untuk tawakal kepada Allah untuk permasalahan apa pun. Dan kesabarannya menahan sakit serta mengelola perasaan mengajarkan kami untuk tidak mudah jatuh dalam menghadapi kehidupan yang keras ini.

Anakku sayang! terimakasih telah mengajarkan banyak hal kepada 2 makhluk Allah yg sedang belajar menjadi orang tua ini. Kami yakin kami harus terus banyak belajar lagi untuk menjadi orang tua yang diridhai Allah. Termasuk menguatkan  hati, bila suatu saat, engkau akan melangkah ringan lagi : mungkin ke kancah dakwah yang pelik atau mungkin ke medan jihad seperti  palestina dan afghanistan. Dan bundanya ini belajar melapangkan hati, apa pun yang tejadi engkau memang milik Rabb Yang Maha Suci.

penulis: Ekha Subara