Analisis Pemberitaan Terhadap Islam

Inspirasi Islami Perempuan, Keluarga dan Anak

Selasa, 02 Januari 2018

Analisis Pemberitaan Terhadap Islam

Analisis Pemberitaan Terhadap Islam

Oleh : Ekha Putri Minangsih Subara

1 Bagian Pendahuluan


Analisis Pemberitaan Terhadap Islam
( dengan pisau model propaganda Noam chomsky)

Melihat berbagai pemberitaan media mainstream yang sering menyudutkan kaum muslimin, saya tertarik untuk berbagi tentang analisis media yg disampaikan beberapa peneliti dalam suatu training jurnalistik.

Beberapa postingan saya ke depan akan membahas model propaganda dari Noam Chomsky. Dan sebelum itu kalau kita lihat faktanya, berita media bisa dipahami seperti sebuah lapisan, dimana teks dihasilkan dari proses yang terjadi di ruang redaksi dan konteks dimana media hadir dan saat peristiwa tersebut terjadi.

Ruang redaksi bukanlah sebuah kotak yang netral, sebaliknya ruang redaksi sangat rentan dipengaruhi oleh berbagai kekuatan baik internal atau pun eksteral -----pemerintah (kekuasaan politik), pengiklan, kelompok penekan, pemilik media, pengusaha dan sebagainya.

2 Filter Pemilik Media


Dari kelompok media yang ada di Indonesia, setidaknya ada 10 kelompok terbesar. Ada kelompok media yang terintegrasi dengan memiliki media cetak, radio, televisi dan online (seperti Media Nusantara Citra Group, Media Group, Jawa Pos Group dan Kompas Gramedia Group).

Sementara ada kelompok media yang untuk sementara hanya berkonsentrasi ke beberapa media saja, seperti Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) Group dan Trans Corp/ PARA Group yang kuat di media televisi. Atau kelompok media Femina Group dan Mugi Reksa Aditama (MRA) Group yang kuat di media cetak dan radio.

Kelompok besar di bidang media ini sebenarnya bukan berlatar belakang industri media, bahkan bisnis media ini hanya bagian kecil dari bisnisnya.

maka sudah bisa dipahami bisnis media ini menjadi lahan propaganda atas bisnisnya yang lain yang lebih besar, agar bisa diterima masyarakat dengan berbagai literasi yang dipropagandakan terus menerus hingga merubah sudut pandang.

Dalam praktek konglomerasi yang mereka lakukan ada hal hal yang bertentangan dengan Islam seperti kepemilikan Umum yang dikuasai oleh pribadi, praktek praktek kolusi, sistem ribawi dan berbagai hal lainnya.

maka kekritisan pejuang islam atas hal ini akan mereka bungkam di kotak redaksi untuk mengamankan bisnis mereka.


3. Filter pengiklan


Pengiklan mempengaruhi isi media secara langsung ataupun tidak langsung. Isi media merefleksikan perspektif dan kepentingan dari penjual, pembeli dan produk.

Iklan adalah sumber utama bahkan satu-satunya bagi media. Televisi dan radio, hampir 100% pendapatan berasal dari iklan. Sementara untuk media cetak, antara 50-75% pendapatan berasal dari iklan.

Ketika para pengiklan ini adalah orang orang yang tidak suka terhadap islam, atau terancam dengan kebangkitan islam maka tidak aneh opini islam tidak akan terbit di media dengan pengiklan tersebut.

4. Filter nara sumber


Media massa membutuhkan sumber berita (narasumber). Sumber berita tersebut bisa orang yang mengetahui suatu fakta (kejadian), bisa juga orang yang dianggap otoritatif dalam menjelaskan suatu peristiwa. Tanpa narasumber, berita media massa bisa menjadi sekedar rumor..

Sumber berita penting untuk dua hal (Herman and Chomsky, 2002:19). Pertama, kredibilitas berita. Semakin sulit narasumber diraih, semakin prestise suatu berita. Kedua, media bisa mengklaim berita yang dihasilkan “objektif”.

Namun dalam hal ini, ketika pihak tertentu memiliki standar ganda terhadap sudut pandang peristiwa, maka ia akan memfilter narasumber yang hanya menguatkan opini yang ingin dipropagandakan.

Bisa kita lihat, narasumber yang diambil media tertentu saat ini seringkali tidak merepresentasikan islam itu sendiri. Lebih parahnya bahkan mereka membicarakan masalah islam tanpa narasumber dari orang islma itu sendiri.


5. Filter berupa Flak

Yaitu merujuk pada respon negatif pada program atau institusi media. Ia bisa berupa surat, petisi, telepon, gugatan hukum dan bentuk-bentuk camplain dan protes lainnya (Herman and Chomsky, 2002:26).

Flak bisa muncul secara sporadis tetapi bisa juga terorganisir---oleh korporasi atau kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat.

Kasus penolakan liputan media tertentu ketika aksi 212 atau agenda besar umat islam lainnya adalah flak yang nyata.

Flak ini akan dipertimbangkan oleh tim redaksi agar mengeluarkan berita yang lebih berimbang.

namun kadang Flak ini tak dihiraukan dengan anggapan konsumen media tersebut bukan umat islam.


6 dari 6 terakhir. Filter Ideologi


Bisa dipahami bahwa pertarungan ideologi selalu terjadi setiap masa.

Kadang bukan masalah jumlah uang dari pengiklan atau kepentingan bisnis tertentu, ada pihak yang memang mempengaruhi tim redaksi atas ideologi tertentu.

Bagi pihak pihak yang tidak suka islam, hal ini menjadi ajang perang pemikiran yang menantang.