Ketika Hujan Reda

Inspirasi Islami Perempuan, Keluarga dan Anak

Minggu, 18 Agustus 2013

Ketika Hujan Reda

Ketika Hujan Reda

Telepon selulerku berdering, muncul nama yg tidak asing lagi bagiku di layar.
“ Assalamu’alaikum! “, ujar anggota DPRD tersebut. “Wa ‘alaikumu salam,” jawabku.
“ Teh, nanti sore jadi kan ke rumah saya? Tanyanya. “Insya Allah” tukasku cepat!
“ Kalau begitu, boleh saya minta sekalian dibawakan modul tentang ekonomi Islam?” Ujarnya minta tolong.
“Boleh bu!” kataku menutup pembicaraan.

Subhanallah, kunjungan silah ukhuwah sekaligus ajang diskusi divisi dakwah kami disambut dengan hangat oleh beliau. Meski beliau padat jadwal, namun dorongan haus akan ilmu & semangat mencari kebenaran membuatnya menulis nama tim kami di agendanya sore itu.  Hari yang cukup terang pada siangnya, namun berubah mendung & sendu mendekati sore. Lalu tumpahlah hujan dengan derasnya.

Bukan kami takut menerobos hujan. Ada beberapa pertimbangan untuk itu. Kesehatan tubuhku memburuk akhir-akhir ini, selain sedang hamil besar yang harus dijaga dengan baik, serangan penyempitan saluran pernafasan telah membuatku terduduk lemas setiap malam selama 2 minggu, menahan sesak. Dan pemicunya adalah hawa dingin. Hal inilah yang menyebabkan suamiku ekstra keras menyortir kegiatan yang bisa atau tidak bisa kulakukan.

“Boleh kan Yah, bunda pergi? Ujarku merajuk pada suami. Seraya tersenyum suamiku berkata “ Kalau hujan sebesar ini, ayah tidak mengijinkan bunda pergi, medannya licin, kita harus jaga calon anak kita dengan baik bukan ?” jawabnya lembut. “ Kalau bunda pergi pakai mobil ?” seraya tertawa aku mencandainya. “Faktanya, kita tidak punya mobil!” Katanya dengan nada agak ditekan. “Kalau bunda carter angkot? Tanyaku lagi. “ Itu tidak efektif bunda! Biaya carternya menghabiskan ongkos dakwah kita seminggu. Kalau pun tidak carter, Tempatnya cukup jauh, tidak ada angkot satu atau 2 rute dari rumah kita, bunda tetap akan basah kuyup menyetop satu angkot, turun dan menyetop angkot lainnya meski dengan payung.” Jelasnya. “Lalu? Bisikku lembut. “ Bunda, boleh pergi kalau hujannya kecil!” bisiknya pula.

Beberapa jam berlalu hujan tak kunjung reda, bahkan sesekali ada petir & halilintar menghiasi langit. Kalau seperti ini, sering terlintas keinginan untuk punya mobil. Cukup Avanza lah hayalku sambil senyum-senyum memikirkan hal itu. Tapi seketika juga aku sadar, saat ini, hal tersebut tidak mungkin & tidak usah dipikirkan lagi. Lagipula aku tidak ingin menjadikan dakwah sebagai tameng untuk ingin punya mobil. Ingin punya mobil ya ingin saja. Tidak usah beralasan untuk dakwahlah, untuk ngangkut tokoh ke acara lah, untuk bawa keperluan logistik acara dakwah lah dll. Ingin punya mobil ya ingin punya mobil, insya Allah, seorang muslim tentu akan menggunakannya untuk kebaikan termasuk untuk dakwah tapi tidak usah menjadikan dakwah sebagai tamengnya. Apalagi jadi mengurangi aktivitas dakwah demi mengejar mobil, sehingga sebelum punya mobil pun sudah berkurang kontribusinya untuk dakwah, bagaimana ketika sudah punya mobil?  Insya Allah kalau memang rezekinya serta kita tetap dalam koridor dan prioritas amal yang benar dalam meraih mobil, keberkahannya melimpah ruah untuk kita.

Tepat, Pkl 15.30 waktu yang dijanjikan untuk pergi dg anggota tim lain. Sekali lagi aku bertanya pada suamiku, “Ayah, kalau hujannya sekecil ini, boleh pergi?” sambil tersenyum.   Sambil tersenyum pula, suamiku menyunggingkan senyum misteri yang indah. “ Boleh, sayang! Ujarnya.
Hatiku bersorak, seiring dengan itu hujan mereda, diantar suamiku menggunakan sepeda motor tua yang joknya mulai sobek termakan waktu, aku datang ke tempat yang dijanjikan bersama tim yg lain. Disana sudah menunggu teman satu tim dengan kondisi motor yang lebih baik, termasuk pinjaman jilbab jas hujannya. Dan waktu itu, hujan hampir reda.

Lembayung sore menemani diskusi kami yang hangat. Betapa anggota DPRD yg kami temui muak dengan apa yg terjadi saat ini, ketika perempuan dikejar partisipasi publiknya, sedangkan peran utamanya ditinggalkan. Tak lebih perempuan hanya dihargai  sebagai mesin pencetak uang & kenikmatan seksual. Beliau rindu kehidupan dalam naungan islam yang menghormati perempuan seperti kodratnya menjadi ibu & pengatur rumah tangga.

Dan ketika pulang, hujan benar-benar reda. “ Tentu kita akan menyesal kalau kita tidak jadi berkunjung ke rumah ibu tadi ya? “ ujar teman 1 timku. “Iya betul, melihat beliau tercerahkan dengan islam adalah kebahgiaan! “ jawabku. Dan satu hal yang tidak kukatakan langsung pada teman 1 timku, aku tersadar bahwa ketika huja reda sore itu, hal itu bernilai layaknya mobil avanza bagiku. Mungkin banyak nikmat Allah yg kusepelekan. Hal sederhana seperti redanya hujan serta bersinarnya mentari bahkan sebenarnya tidak ternilai harganya dibanding apa-apa yang kita impikan.

Catatan kecil : Saya sampaikan salam perjuangan bagi  muslimah yang dengan segala keterbatasannya menyusuri kota & pedesaan, untuk mengunjungi simpul-simpul umat untuk acara Konferensi perempuan Internasional 22 Desember di Jakarta. Terutama teman-teman yg saya kenal di sumedang, meski jalannya harus menaiki gunung, menuruni lembah, bahkan melintasi sungai melalui pipa irigasi di musim hujan. Barakallahu!!!

penulis: Ekha Subara